Saturday, February 28, 2009

Rumors!


Hidup di kota kecil seperti di Probolinggo membuat 'kabar burung' melenggang bebas dari mulut ke mulut. Kota kecil dimana rata-rata orang mengenal sesamanya, membuat tidak adanya pemikiran “Mind Your Own Business!”. Aku adalah orang yang kadang-kadang tidak bisa lolos dari kabar burung itu (atau istilah nge-trend nya gossip, rumour etc). Embel-embel nama “Nawawi” sudah terlanjur nempel di diriku. Nama Nawawi memang sudah tidak asing buat warga Probolinggo. Jangankan mama, beberapa staff nawawi yang sudah lama bekerja pun sudah dikenali banyak orang khususnya loyal customers. Apalagi tahun kemarin, setelah pakde aku menjadi kandidat pencalonan walikota Probolinggo, nama keluarga semakin dikenal orang. Bukannya bermaksud sombong, cuman jika diberi pilihan, aku juga tidak mau dikenal banyak orang.

Beberapa tahun lalu misalnya, ada teman smp datang ke aku, minta undangan.
“Undangan apa?” tanyaku.
“Yaelah...Ya undangan kamu merit non tanggal 10 juni nanti di Gedung A”, kata temenku.
“Hah?!!” aku cuman bisa melongo kayak orang dongo. Ini mah sekalian lengkap ma tanggal dan tempatnya. Akhirnya aku tanya balik,
“Emang cowoknya siapa?”
“Yah aku ga tau”, dia njawab
“Aku loh ga punya calon, jadi mo merit ama sapa?”, tanyaku menjebak
“Masak sih?! Kok udah banyak yang bilang kalo kmu merit 10 juni ini”

Itu cuman salah satu diantaranya. Apa emang iya begini “nasib perempuan yang belum nikah”? Desas-desus tentang siapa calonnya terlalu sering berhembus. “Terlalu anehkah jika aku belum menikah?”. Bahkan ada yang bilang kalo aku udah hamil. Hamilnya kapan trus meritnya kapan kok bisa-bisanya ada kabar seperti itu. “Abisnya kmu rada ndut-an, jadi dipikirnya lagi hamil” begitu kata teman. Emang kalo aku gendutan artinya hamil? Wong aku rada suka makan, apalagi di Melbourne surganya makanan enak dan porsinya pun 3x porsi di sini. Ga percaya? Tanyain aja temen-temenku yang di Melbourne tentang 'eating habit' kita (hahaha).

Desas-desusnya sekarang, bahwa aku sedang menjalin hubungan ama seorang tentara berpangkat letnan satu infanteri. Memang kalo dia mampir di Probolinggo, Ardha selalu menyempatkan ketemuan ma aku secara dia orang se-geng aku sejak SMA di Surabaya dulu. Whenever we walked out together, people never stop starring at us. Awalnya risih juga aku dan rada ga enakan ma dia, tapi emang awalnya dia rada kaget dilihatin orang. He just realized, if I'm in probolinggo, I'm just not that ordinary. Selama di Surabaya, yang dia tahu yah sebatas 'mirna adalah mirna', tanpa ada embel-embel lainnya. Bahkan om aku yang tinggalnya jauh dari aku, tahu tentang kabar itu dari tetangganya. Ckckck....

Alhasil, Ardha ini pun rada 'kecipratan' oleh kabar ini. Status hubungan aku ma dia dipertanyakan danpri-nya. Danpri adalah komandan dari tiga batalyon yang berpusat di Jember. Dan Jabatan pangkat Danpri itu cukup jauh diatas Ardha yang masih berpangkat lettu. Dia rada kaget juga kenapa danpri itu menanyakan kepada komandannya si Ardha tentang sejauh mana keseriusan dia dengan aku dan memberi 'wanti-wanti' supaya tidak main-main dengan aku. Dan aku pun tidak mengenal siapa danpri itu dan agak heran juga kenapa harus 'ikut campur'. *Sigh

Kadang-kadang terlalu capek untuk meng-klarifikasi semuanya. Jika dijawab pun, mereka tidak percaya. Kan repot itu namanya?. Jadi aku lebih baik diam saja, tidak meng-iya kan dan tidak juga menolak semua kabar itu, karena sekarang aku menjaga privasi. Aku tidak ingin orang terlalu banyak tahu tentang my love life untuk meredam komentar-komentar lebih banyak lagi. Yah aku anggap saja semua itu doa, doa dari orang banyak supaya aku cepet menikah (hahaha). Seharusnya mereka berhenti bertanya kapan aku menikah dan berhenti menebak-nebak dengan siapa aku sekarang, toh pada akhirnya aku juga akan menikah. Insyaallah taun depan. Kalo engga yah, taun depannya lagi. Kalo ga jadi yah, tiga tahun lagi hahahaha. Tidak usah menebak-nebak deh, ntar tiba-tiba muncul aja di “Radar Bromo” (koran lokal Probolinggo dari Jawa Pos Group) kalau aku mau menikah, hahahaha.

Jadi sejauh mana kebenaran kabar itu? Biarin aku, keluarga dan teman-teman dekat aku yang tahu status aku sebenernya apa (single atau in relationship,atau enganged atau dengan siapa aku sedang dekat). Aku cuman belajar dari yang kemarin-marin. Ketika orang-orang memaksa aku untuk mempublikasi-kan hubungan aku dalam kondisi aku yang belum siap dan belum yakin ternyata berakhir dengan situasi yang kurang baik. Makanya, privasi aku jadikan barang yang mahal. Jika memang suatu saat nanti aku sudah yakin dengan siapapun yang jadi pilihanku, pastinya nanti aku sebarkan sendiri berita ini Kalau perlu, aku lakuin seperti orang kampanye hahahahaha. Abisnya, capek banget deh ih dengerin orang-orang, tutup telingapun masih kedengaran.



Sadly...They see or they don't see, they still do judge.
(mirna)

Thursday, February 26, 2009

Cowok untuk Mirna

“Untuk ukuran seorang mirna, mirna seharusnya mendapatkan direktur, atau dokter, atau anak dari pejabat”.


Itu pendapat kebanyakan orang, yang cukup membuat aku terkekeh-kekeh. Sehingga, aku disodorkan (baca: dijodohkan dan dikenalkan) dengan cowok yang lulusan dari A, atau bergelar dokter dan bla bla yang lain. Semuanya lewat aja buat aku. Wajar sebetulnya mereka punya 'great expectation' seperti itu mengingat bahwa aku hidup dari keluarga berkecukupan dan gelar kesarjanaan aku mulai dari S1 dan S2 aku dapetin dari luar negri. Secara otomatis, standard cowok yang pas buat aku timbul sendiri dalam pikiran-pikiran mereka.

Aku sendiri tidak terlalu memusingkan masalah itu, misalnya masalah jabatan atau keprofesian. Kalau seandainya mereka bertanya ke aku tentang hal-hal apa yang aku lihat dari pria untuk menjadi pendampingku, aku akan menjawabnya sedikit berbeda dengan jawaban mereka. Hal utama yang paling prinsip pastilah harus se-agama, dan kalian sendiri sudah paham kenapa itu penting sekali. Hal lainnya adalah, karakter dan kepribadian yang kuat tersebut. Personally, aku butuh cowok yang mempunyai sifat pemimpin yang tegas dan 'good decision maker', secara aku itu orangnya plin-plan dalam mengambil keputusan. Cowok yang berani mengambil sikap, secara aku itu orangnya penakut. Basically, I need a man who knows what to do in difficult times and stands up on what he believes in.


Aku juga tidak bilang bahwa status dan pekerjaan tidaklah penting. Bagiku itu penting tapi bukanlah yang utama. Itu juga bukan berarti bahwa aku terlalu gampang menerima segala macam profesi orang. Jika memang pekerjaan yang dia jalanin dan jabatan yang dia pegang masih tergolong biasa untuk sekarang, tapi kalau dia mempunyai leadership character yang kuat seperti yang aku utarain sebelumnya, tidak masalah buat aku karena aku yakin dia pasti akan menjadi orang besar juga nantinya. Mana ada sekarang hidup mau langsung enak, lebih enak kalau kita bersama menjalaninya dari susah dan dari bawah. Jadinya seperti ada, “lesson to learn”.

Kenapa karakter seperti itu penting buat aku? Karena aku cuman perempuan biasa yang butuh juga untuk diayomin, dilindungi dan dituntun oleh seorang pria. Selain itu, aku mempunyai tanggung jawab untuk menyokong hidup banyak orang, maka aku butuh orang yang optimis dan berpandangan possitif sehingga bisa memberi aku motivasi continuosly (that I'm capable of everything). Dengan status keluarga dan tanggung jawab yang besar, pressure sudahlah ada dari orang-orang luar, justru karena situasi seperti ini aku butuh cowok yang gentleman buat protect aku.


Aku percaya bahwa Allah sudah menentukan jodoh aku jauh sebelum aku lahir. Pada dasarnya, manusia seperti kita bolehlah berkehendak, but at the end, Allah yang membuat keputusan. Jika perasaan sayang dan cinta bisa manusia ciptakan sendiri, maka aku akan penuhi expectation mereka. Aku akan membuat hatiku sendiri mempunyai perasaan sayang dan cinta kepada cowok yang berprofesi dokter dan yang punya perusahaan A, atau dari kalangan dan keluarga tertentu. Tapi inilah hidup, kadang-kadang tidak berjalan yang seperti kita inginkan. Kadang-kadang aku miris juga, dengan apa yang aku punya sekarang, justru membuat aku susah bahagia karena terlalu tingginya harapan dari orang-orang tentang standard dari pria yang pantas buat aku. Tapi, sudah aku anggap santai semua komentar-komentar itu hahaha. Yang penting, aku siap menerima apa yang Allah berikan dan takdirkan untuk aku. Aku pasrah dan berdoa untuk meminta yang terbaik. Karena cuman Allah yang tahu sebenarnya apa yang terbaik untuk hambanya sekarang dan yang akan datang. Takdir di masa depan adalah sesuatu yang tidak diketahui manusia seperti kita. Apa yang baik sekarang belum tentu baik untuk masa depan. Dan seharusnya mereka sadar akan hal itu. Sekarang, apa mereka bisa menjamin aku bisa bahagia secara batin jika menikah dengan milyuner atau dokter?.


Have I found the man? hahaha....ini menjadi pertanyaan banyak orang. Well,, it's a secret that need yet to be revealed. Biarin mereka mereka-reka. Bikin mereka penasaran juga..Dijawab pun kayaknya mereka tidak percaya


“Mirna mau cari cowok yang kayak gimana sih?”

dan aku pun berkata,

“ Apa yang Allah berikan pada aku, aku terima. Karena insya allah, itulah yang terbaik”

 
Buku Harian Mirna. Design by Exotic Mommie. Illustraion By DaPino