Thursday, September 10, 2009

My 25 Candles




" ...Ibaratnya saya berjalan dengan memegang lilin, berusaha sekuat hati agar tidak padam terhembus oleh angin. Sering kali nyala api kecil itu padam ~ kehilangan bara kecil keberaniannya. Hakikatnya, lilin mati itu masih ada di pelukan tangan saya. Saya memaksakan diri untuk bertahan dan mencoba menyalakan kembali cahaya kecil itu. Tidak bisa saya menahan cobaan yang datang tetapi setidaknya saya masih mempunyai keinginan untuk bertahan....".

Banyak sudah yang terjadi dalam hidup saya, baik buruknya saya terima dengan besar hati. Meyakini bahwa itu adalah proses bagi saya. Proses pendewasaan diri.

Saya bukanlah saya yang sekarang tanpa adanya inspirasi yang membentuk kepribadian saya. Saya meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia, tapi tidak membentuk sifat dan kepribadian. Karena semua itu adalah pilihan hidup manusia itu sendiri. Saya belajar bahwa indah tidaknya hidup seseorang terletak dari spirit hidupnya. Itu semua (lagi) adalah pilihan. Diantara mereka memilih untuk memperburuk hidup mereka dengan sejuta keluhan dengan jiwa yang putus asa. Tetapi saya ingin berada di tengah-tengah orang yang memilih untuk mempunyai semangat positif. Untuk saya, membuat hidup sendiri lebih positif.


Seorang ibu bagi saya memberikan peranan terbesar dalam kehidupan. Dia menjadi panutan teladan tertinggi dalam kehidupan saya. Sebagian dalam diri ibu terdapat dalam diri saya. Beliau mengajarkan untuk memperlakukan setiap orang dengan baik terlepas bagaimana orang itu memperlakukan kita. Sesuatu yang masih susah untuk dilakukan. Beliau adalah inspirasi terbesar ~dimana saya ingin menjadi menjadi wanita seperti dia yang mempunyai hati besar untuk membantu sesamanya. "Giving to others brings happiness for me". Ada kepuasan didalamnya, bahwa Tuhan menciptakan saya bukanlah tanpa alasan. Bahwa saya mampu memberikan yang terbaik untuk society, walaupun masih dalam skala yang kecil. Mindset saya pun berubah. Jika dulu orang bijak bilang, "Jika tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui". Tapi bagi saya sekarang, "Bila tangan kanan memberi, biarlah tangan kiri melihat agar bisa berubah sebaik tangan kanan".

Mereka, bagi saya, adalah pelangi di kehidupan. Seperti pelangi yang memancarkan warna berbeda, itulah kami. Masing-masing dari kami adalah pribadi yang unik. Berbeda agama, suku dan etnis justru membawa keindahan tersendiri untuk hidup saya. Bersama mereka, saya belajar untuk lebih care dan responsif terhadap orang. Mereka adalah teman terbaik. Seperti telur, mereka akan tetap bilang saya telur yang utuh walaupun ada sedikit retak. Perempuan-perempuan ini akan melakukan apapun untuk tetap berjalan dibelakang saya ketika dunia tidak berpihak kepada saya dan selalu senantiasa memastikan saya untuk berdiri kembali ketika terjatuh. "These girls are my big supporters". Jauh dari mereka, merupakan salah satu kehilangan terbesar tahun ini. Melbourne masih menjadi rumah untuk saya karena disitulah mereka ~ keluarga saya tinggal.



Saat ini saya sedang memimpin banyak staff. Dan saya
menikmati waktu bersama mereka. Kebersamaan merupakan elemen terpenting bagi saya untuk mengetahui emosi yang terjadi pada mereka sebagai orang terpenting dalam bisnis saya. Dalam dunia kerja, saya ibaratnya pengatur suhu. Sampai sekarang pun saya masih belajar kapan memanaskan, menurunkan atau menjaga keseimbangan emosi pada tingkat yang stabil. Mereka adalah nyawa saya bekerja, bersama mereka saya ciptakan ritme kerja dengan mengedepankan rasa kekeluargaan.




Pria ini bukanlah orang yang baru bagi saya. Kebersamaan berawal dari sepuluh tahun yang lalu. Diapun sudah melewati banyak proses dalam kehidupan saya. Tanpa terbatasi oleh waktu, kami pun mengalami pasang surut dalam berhubungan. Dia pernah mengatakan kepada saya, "Jika kita tidak melalui proses-proses itu, maka waktu tidak akan pernah mendewasakan kita". Bagi saya, dia adalah pemimpin dan mentor yang selalu menunjukkan jalan keluar ketika saya tidak menemukannya. Dia juga berperan sebagai teman untuk berbagi dan memberi perlindungan yang saya butuhkan. Dia merupakan orang yang memberi spirit yang positif, sehingga saya pun merasa jalan apapun akan bisa dilalui. "Jangan dipikir terlalu berat. Hidup ini dibuat simple dan dijalanin dengan indah saja.", itu pesannya.

Saya bukan superwoman, karena itu sebetulnya tidak pernah ada, tidak akan bisa dan tak perlu. Namun, kadang-kadang saya berandai-andai berpikiran akan menjadi orang hebat nantinya. Orang yang kuat ~ orang yang punya kekuasaan. Bukan untuk apa-apa, saya cuman ingin berdiri tegak dan menunduk untuk mengangkat orang lain. Bagi saya, kekuatan terukur dari seberapa banyak kita bisa menopang orang lain. Dan itu kekuatan yang saya cita-citakan.




 
Buku Harian Mirna. Design by Exotic Mommie. Illustraion By DaPino